Sepanjang sejarah, selalu ada sosok yang namanya tertanam di hati banyak orang. Salah satunya adalah Murobbi Hadratal Habib Musthofa Al Djufri. Beliau bukan hanya seorang ulama, tapi juga mursyid yang benar-benar membimbing umat dengan hati dan ketulusan. Hidupnya dipersembahkan untuk mendidik, mencerdaskan, dan menyiapkan generasi muda. Dari perjuangan dan pengorbanannya, lahirlah Pondok Pesantren Nurul Huda — sebuah pelita yang terus menyala, menerangi siapa saja yang datang menuntut ilmu.
Perjuangan yang Melahirkan Peradaban
Pesantren ini berdiri bukan karena kelimpahan harta, tapi karena keluasan hati. Di balik bangunan yang sekarang berdiri kokoh, pernah ada masa penuh keterbatasan. Habib Musthofa Al Djufri memulai dakwahnya dengan langkah yang sederhana tapi penuh keyakinan, rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan hidupnya demi membangun lembaga pendidikan yang teguh memegang ajaran Islam Ahlusunnah wal Jamaah.
Bagi beliau, mendidik santri bukan cuma soal memberi materi pelajaran. Lebih dari itu, beliau membentuk akhlak, membangun karakter, dan menanamkan rasa cinta kepada Allah.
Santri yang lahir dari didikan Nurul Huda tidak berhenti menjadi penuntut ilmu. Mereka disiapkan untuk menjadi orang yang bermanfaat, mengabdi pada agama, dan memberi dampak baik untuk bangsa. Setiap langkah mereka membawa nilai yang ditanamkan sang guru: keteguhan, keikhlasan, dan pengabdian.
Kemerdekaan: Amanah yang Harus Dijaga
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hadiah besar, dibayar mahal oleh beliau para pejuang dengan darah dan air mata. Tapi kemerdekaan bukan akhir cerita. Justru di sinilah dimulai babak baru perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, dan rusaknya moral.
Hadratal Habib Musthofa sangat paham hal ini. Bagi beliau, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, namun kemerdekaan bersihknya hati dari keterikatan selain Allah Ta’alah. Imam al-Ghazali رحمه الله dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menegaskan:
الْحُرِّيَّةُ حَقِيقَتُهَا خُلُوصُ الْقَلْبِ عَنِ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى
“Hakikat kemerdekaan adalah bersihnya hati dari keterikatan kepada selain Allah Ta‘ala.”
(Ihya’ ‘Ulumiddin, 4/297)
tampa Keimanan, kemerdekaan akan kehilangan arah. Tanpa ilmu, ia akan kehilangan kekuatan. Karena itu pesantren jadi benteng yang menjaga keduanya. Pendidikan yang beliau rintis tidak cuma melahirkan ulama, tapi juga membentuk generasi yang siap terjun mengabdi di berbagai bidang.
Dakwah yang Menghidupkan
Dakwah Habib Musthofa tidak berhenti Pondok Pesantren yang beliau dirikan. Beliau turun langsung ke masyarakat, mengajarkan Islam dengan teladan hidup. Seperti pesan Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad رحمه الله:
الدعوة إلى الله بالحال أنجع من الدعوة بالمقال
“Mengajak kepada Allah dengan teladan lebih mengena daripada hanya kata-kata.”
Para santri yang keluar dari Pondok Pesantren Nurul Huda membawa jejak beliau dalam cara berpikir, berakhlak, dan bersikap. Itu semua adalah amal jariyah yang terus mengalir.
Di zaman yang serba cepat dan penuh godaan ini, pesantren jadi tempat aman untuk generasi muda belajar menyeimbangkan iman dan pengetahuan. Nilai-nilai warisan Hadratal Habib Musthofa menjadi kompas di tengah derasnya arus perubahan.
Pelajaran untuk Generasi Sekarang
Sejarah membuktikan, bangsa yang besar lahir dari guru-guru yang tulus. Hadratal Habib Musthofa Al Djufri memberi contoh nyata bahwa membentuk manusia jauh lebih berharga daripada sekadar membangun gedung megah. Dari orang-orang yang berilmu dan berakhlak inilah peradaban yang kuat akan terbangun.
Seperti kata Pepatah arab:
تَأْسِيسُ العُقُولِ أَبْقَى مِنْ تَأْسِيسِ الحُجُورِ
“Membangun akal lebih kekal daripada membangun tembok.”
Menjelang kemerdekaan RI ke-80 ini, kita perlu bertanya ke diri sendiri: sudahkah kita mengisi kemerdekaan ini sesuai cita-cita para pendahulu? Sudahkah kita jadi mata rantai pengabdian seperti yang ditunjukkan Hadratal Habib Musthofa Al Djufri?
Kemerdekaan bukan cuma pesta setahun sekali. Ia adalah amanah yang menuntut kerja dan perjuangan setiap hari. Dan perjuangan itu dimulai dari hati, dari semangat belajar, dan dari pengabdian yang tulus — persis seperti yang beliau lakukan sepanjang hidupnya.
Penulis : Ahmad Muhajir | HUT RI 80 2025