Situbondo – Pondok Pesantren (PP) Nurul Huda terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan santri melalui pembiasaan penggunaan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Melalui program pembelajaran berbasis praktik percakapan (Conversation), pesantren mulai membangun budaya bahasa sebagai langkah awal menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di lingkungan pesantren.

Program ini diikuti oleh santri mulai dari kelas 3 Madrasah Diniyah hingga mahasiswa Ma’had Aly. Dalam pelaksanaannya, para santri dibagi ke dalam 27 kelompok belajar, yang masing-masing terdiri atas 6–7 peserta dengan didampingi oleh seorang tutor. Sistem ini dirancang agar proses belajar menjadi lebih efektif, interaktif, dan mampu meningkatkan kepercayaan diri santri dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan setiap pagi, mulai pukul 06.30 hingga 08.30 WIB, dengan bimbingan langsung dari pengasuh pesantren. Pembelajaran ini dibagi menjadi 3 tahapan selama 30 menit, 10 menit pertama mempraktekkan percakapan yang dibuat, 10 menit kedua diisi dengan mengarang percakapan yang akan dipraktekkan keesokan harinya dan 10 menit terakhir diisi dengan praktek percaloan yang sudah dikarang. Seluruh kegiatan berada di bawah koordinasi dan arahan langsung dari Abuya Habib Muhammad Taufiq Al Djufri, yang berkomitmen untuk membangun lingkungan pesantren yang mendukung penguasaan bahasa.

Berbeda dengan metode pembelajaran yang hanya berfokus pada penguasaan kosakata, program ini lebih menekankan pada praktik percakapan secara langsung. Setiap santri diwajibkan membuat satu percakapan Bahasa Inggris setiap hari, kemudian menghafalkan dan mempraktikkannya bersama teman-teman kelompok. Hingga saat ini, program tersebut telah memasuki pertemuan ke-36.
Menariknya, proses belajar dikemas dengan suasana yang santai dan menyenangkan. Santri diperbolehkan mencampurkan Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia ketika belum mengetahui kosakata yang tepat. Pendekatan ini membuat peserta tidak merasa terbebani dan justru menganggap pembelajaran Bahasa Inggris sebagai aktivitas yang bermanfaat dan menghibur.

Program ini telah memberikan dampak positif bagi perkembangan kemampuan bahasa santri. Meskipun sebagian besar masih menggunakan Bahasa Inggris secara sederhana dan terkadang menggabungkan dengan Bahasa Indonesia, kemampuan berbicara mereka menunjukkan peningkatan yang signifikan dari sebelumnya.
“Setidaknya sudah ada perubahan yang terlihat. Santri mulai berani berbicara menggunakan Bahasa Inggris. ” ungkap Siti Noor Faizah, S.Sos salah satu koordinator program.
Dalam mendukung keberhasilan program, pihak pesantren juga menghadirkan Mrs. Haidar, seorang guru Bahasa Inggris profesional, untuk memberikan motivasi sekaligus memperkuat kompetensi bahasa para santri.

Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tantangan, seperti perbedaan tingkat pemahaman santri, keterbatasan kosakata, serta proses adaptasi terhadap budaya bahasa baru. Akan tetapi, semangat para santri untuk terus belajar menjadi modal utama dalam mewujudkan tujuan program tersebut. Program ini merupakan awal langkah untuk mempersiapkan generasi santri yang mempunyai ilmu dengan wawasan luas yakni dengan menguasai Bahasa Inggris khususnya dalam Conversation.
Penulis :Rofiatulmasruroh