KOTA KINABALU, SABAH — Ada pertemuan yang selesai ketika pintu ruangan ditutup. Namun ada pula pertemuan yang meninggalkan kesan jauh setelah percakapan berakhir.

Demikian suasana yang terasa dalam pertemuan Sahibus Samahah Datuk Dr. Ustaz Haji Bungsu @ Aziz bin Haji Jaafar, Mufti Kerajaan Negeri Sabah, bersama Dr. Sy. H. Muhammad Taufiq, M.Pd.I., di Pusat Pentadbiran Negeri Sabah (PPNS), Tingkat 21, Blok A, Kota Kinabalu.
Pertemuan yang berlangsung kurang lebih 70 menit itu awalnya berjalan dalam suasana resmi. Namun perlahan berubah menjadi percakapan yang begitu akrab, hangat dan penuh nuansa keulamaan.
Kisah Tun Mustapha Mengalir di Ruang Pertemuan
Dalam suasana yang semakin cair, Sahibus Samahah Datuk Mufti Sabah kemudian mengisahkan perjalanan salah satu tokoh penting dalam sejarah Sabah, Tun Datu Haji Mustapha bin Datu Harun.
Tun Mustapha bukan nama biasa dalam sejarah Negeri Sabah. Beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan pembentukan Sabah modern. Arsip Negara Sabah mencatat beliau lahir di Kampung Limau-Limauan, Kudat, pada 31 Juli 1918. Beliau kemudian menjadi Yang di-Pertua Negeri Sabah yang pertama, sebelum melanjutkan pengabdiannya sebagai Ketua Menteri Sabah pada 1967 hingga 1975.
Pemerintah Sabah juga mencatat Tun Mustapha sebagai salah seorang tokoh pendiri Sabah dan tokoh yang memiliki peranan penting dalam sejarah perjuangan negeri tersebut.
Nama besar itu pun mengalir dalam percakapan.

Hingga kemudian terjadi sebuah momen spontan yang mengubah suasana ruangan.
“Mustapha…” Sebuah Nama yang Menyentuh Hati
Saat pertama kali memasuki kawasan gedung pemerintahan tersebut, Dr. Sy. H. Muhammad Taufiq telah melihat nama Tun Mustapha terpampang dalam lingkungan gedung.
Namun ketika Sahibus Samahah Datuk Mufti kembali menceritakan sosok Tun Mustapha, seakan terdapat sebuah persambungan makna yang begitu personal.
Dengan spontan, Sayyidil Habib menyampaikan bahwa beliau teringat kepada sosok ayahanda guru besar yang memiliki nama yang sangat dekat dengan nama tersebut, yakni Musthafa.
Sekejap suasana menjadi hening.
Sayyidil Habib kemudian membaca Surah Al-Fatihah untuk ayahanda guru besar beliau. Bacaan itu tidak hanya menjadi doa pribadi. Orang-orang yang berada di dalam ruangan pun turut mengikuti lantunan Al-Fatihah.
Sebuah nama telah mempertemukan dua kenangan.
Tun Mustapha Pendiri Sabah.
Mufobbi Hadratal Hbib Musthafa Musthfa Al Djufri, Pendiri PP. Nurul Huda Situbondo Indonesai
Dua nama yang berbeda dalam konteks, namun pada saat itu bertemu dalam satu suasana: penghormatan kepada guru, sejarah dan orang-orang yang telah berjasa.
Sayyidil Habib kemudian menunjukkan sebuah buku yang memiliki makna khusus dalam perjalanan akademik dan dakwah beliau:
“Menjaga Sanad, Merawat Moderasi.”
Buku tersebut merupakan karya yang lahir dari perjalanan akademik dan pemikiran Sayyidil Habib, yang membahas pentingnya menjaga kesinambungan sanad keilmuan sekaligus merawat nilai-nilai moderasi dalam kehidupan beragama.
Buku itu kemudian menjadi jembatan pembicaraan menuju pengalaman pendidikan yang selama ini dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Huda.
Sayyidil Habib memperlihatkan bagaimana nilai-nilai sanad, tradisi keilmuan dan moderasi tidak berhenti sebagai gagasan dalam buku, tetapi berusaha diwujudkan dalam amaliyah pendidikan pesantren.
Sanad Bukan Sekadar Nama, Tetapi Amanah
Pembicaraan tersebut menjadi semakin menarik. Sanad tidak hanya dipahami sebagai rangkaian nama guru dan murid. Sanad adalah kesinambungan ilmu. Sanad adalah adab. Sanad adalah amanah.
Dan pesantren menjadi salah satu ruang yang selama berabad-abad menjaga kesinambungan tersebut melalui hubungan antara guru, murid, kitab, majelis dan pengabdian.
Dalam konteks itulah, buku Menjaga Sanad, Merawat Moderasi menjadi relevan dengan kehidupan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Huda.
Sebuah kunjungan yang awalnya merupakan silaturahmi antara tokoh agama, perlahan berkembang menjadi percakapan tentang sejarah, guru, sanad, dakwah, moderasi dan masa depan pendidikan Islam.
Pertemuan itu pun menjadi salah satu momen paling berkesan dalam rangkaian rihlah dakwah Dr. Sy. H. Muhammad Taufiq di Negeri Sabah.