SITUBONDO, Jaridah–Istiwomatul Masihah santri Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, menempuh hidup baru. Perempuan asal Jambi ini dinikahkan dengan pasangan asal jangkar situbondo, Hasanuddin. Acara sakral berlangsung di Musalah PPNH, Jumat (10/3/2025).

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Abuya Assayyid Muhammad Taufiq bin Musthofa al-Djufri, menerangkan, makna pernikahan bagi seorang santri. Pernikahan bukan sekedar kesempatan santri untuk pulang ke rumah, lalu menjalankan sunah nabi. Tapi bagaimana pasangan suami istri lulusan pesantren melanjutkan dakwa di tengah masyarakat.
“Menikah tidak hanya beribadah bersama suaminya, tetapi juga harus berdakwah melalui suami, anak-anak, dan keluarganya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki,” ungkap Habib Muhammad.
Dia juga berpesan kepada para suami agar senantiasa menjaga ibadah istri. Sebab suami adalah imam dalam berumah tangga.
“Jaga shalatnya, auratnya, dzikirnya, dan ajak terus menerus dalam kebaikan. Jangan lalai menjadi suami yang mendampingi istri dalam ibadah,” imbuh Habib Muhammad.

Ditegaskan, bahwa tujuan utama dalam rumah tangga adalah keselamatan dunia dan akhirat.
“Targetnya bagaimana istri dapat diselamatkan dari siksa dunia dan akhirat, serta dibawa menuju surga,” pungkas habib Muhammad.
pewarta :Rofiatulmasruroh