Situbondo – Aroma harum daging panggang menyeruak di antara kepulan asap tipis yang membubung di halaman Pondok Pesantren Nurul Huda, Rabu (27/5/2026).
Di sela-sela kepulan asap itu, pecah gelak tawa dan celetukan spontan khas kaum santri. Tepat pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah, ratusan santri PPNH tampak guyub mengerumuni tungku pembakaran sate yang ditata berjejer.

Bersenjatakan kipas bambu maupun alat seadanya, tangan-tangan muda itu tampak sibuk membolak-balik tusukan daging kurban. Gerakan mereka memang terlihat kikuk dan amatir Namun, disitulah letak keseruannya. Mereka tengah merajut kebersamaan lewat tradisi mengolah jatah daging kurban yang diterima dari pesantren.

Bagi para santri, momentum Idul Adha di pondok memiliki magnet tersendiri. Meski kegiatan belajar diliburkan dan mereka tidak pulang ke kampung halaman, atmosfer hari raya tetap terasa meriah dan hangat.

Saat ditemui Tim Jaridah PPNH di sela-sela aktivitasnya membakar sate, Novi Ramadhani, seorang santri kelas 12 asal Raas, tak dapat menyembunyikan rona bahagianya. Dengan peluh yang membasahi dahi, Novi menceritakan bagaimana dia dan teman-teman sekamarnya bahu-membahu membakar sate untuk menu makan malam bersama. “Sangat senang ada acara Nyabar (Nyate Bareng) seperti ini. Ini nanti porsinya dimakan bareng-bareng untuk teman satu kamar,” ujarnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Abidah. Santri asal Denpasar Bali ini mengaku, walau ini merupakan pengalaman pertamanya memegang panggangan sate, rasa rindu pada keluarga di rumah seketika terobati dengan keseruan di belakang masjid tersebut.
“Alhamdulillah, meskipun Idul Adha tahun ini tidak pulang kampung, tetap terasa seru sekali karena ada acara bakar-bakar sate bersama teman-teman,” Ujarnya.
penulis:Masruroh