Malang – Akademisi dan pendidik pesantren, Dr. Habib Muhammad Taufiq Al Djufri, S.Ag., M.Pd.I., resmi meraih gelar Doktor dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdisipliner. Selasa (30/6/2026), di Auditorium Sosilo Bambang Yudhoyono (SBY), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sejak pukul 08.00–10.30 WIB.

Promovendus dinyatakan lulus dengan predikat Yudisium Sangat Memuaskan setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Taṭbīqu Ta‘līmi Kitāb “Mafāhīmu Yajibu An Tuṣaḥḥaḥ” fī I‘dādi ‘Ulamā’i Ahlis Sunnah wal Jamā‘ah bi Ma‘hadi Nurul Huda Situbondo, Jawa Timur, Indonesia atau Implementasi Kitab Mafahim Yajibu An Tushahhah dalam Mencetak Kader Ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Pondok Pesantren Nurul Huda Situbondo.
Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. Hj. Like Raskova Octaberlina, M.Ed., selaku Ketua Sidang sekaligus Penguji IV, dengan Dr. H. Nurul Yaqien, S.Pd.I., M.Pd., sebagai Sekretaris Sidang. Dewan penguji lainnya terdiri atas Prof. Dr. H. Moh. Padil, M.Pd.I. (Penguji I), Dr. H. Zainal Habib, M.Hum. (Penguji II), Prof. Dr. Hj. Sulalah, M.Ag. (Penguji III), Prof. Dr. H. Mulyadi, M.Pd.I. (Promotor/Penguji VI), dan Dr. H. Sudirman, S.Ag., M.Ag. (Co-Promotor/Penguji VII).
Penelitian tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap menguatnya fenomena radikalisme dan ekstremisme keagamaan yang dikhawatirkan menyusup ke berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren, di tengah terfragmentasinya otoritas keagamaan tradisional oleh kelompok-kelompok fundamentalis. Atas dasar itu, penelitian ini berupaya menghadirkan kontribusi akademik bagi penguatan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah melalui instrumen pendidikan berbasis kitab turats.

Kitab Mafahim Yajibu An Tushahhah karya ulama besar Makkah, Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, ditempatkan sebagai media strategis dalam membangun cara pandang keagamaan yang moderat, toleran, dan berakar kuat pada sanad keilmuan yang otoritatif.
Disertasi ini menawarkan suatu model kaderisasi ulama Ahlussunnah wal Jamaah melalui pembelajaran kitab Mafahim yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga internalisasi nilai, transmisi sanad, dan pembentukan karakter keagamaan yang seimbang. Model tersebut dilaksanakan melalui kehadiran guru yang memiliki sanad keilmuan Aswaja yang jelas serta metode pembelajaran dialogis dua arah, sehingga santri mampu memahami ajaran secara mendalam, kritis, dan kontekstual.

Temuan tersebut menegaskan bahwa penguatan sanad keilmuan dan tradisi pembelajaran partisipatif menjadi benteng penting dalam mencegah infiltrasi paham ekstrem di lingkungan pesantren. Dengan demikian, pendidikan pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu menjaga kemaslahatan umat, merawat persatuan, dan mengembangkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pendidikan Islam berbasis turats yang relevan dengan tantangan kontemporer. Sementara secara sosial, hasil penelitian diharapkan menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lain dalam memperkuat kaderisasi ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, berwawasan kebangsaan, dan memiliki otoritas keilmuan yang kokoh.
Keberhasilan Dr. Habib Muhammad Taufiq Al Djufri, S. Ag. M. Pd. I. meraih gelar doktor tidak hanya menjadi capaian personal dan akademik, tetapi juga merupakan ikhtiar intelektual untuk menjaga warisan keilmuan ulama Ahlussunnah wal Jamaah serta memperkuat peran pesantren sebagai benteng peradaban dan pusat pembinaan umat di Indonesia.