Memasuki malam hari raya hingga hari-hari tasyrik, di antara amaliah yang senantiasa dijaga oleh Hadratal Habib Musthofa Al Djufri رحمه الله adalah memperbanyak lantunan takbir. Bahkan beliau menunjuk serta memerintahkan para santri untuk membaca takbir secara bergiliran, sementara beliau menyima’ langsung bacaan mereka dengan penuh perhatian.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari syiar dalam menghidupkan malam hari raya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
(( زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ ))
{ رواه الطبراني رقم : ٥٩٩ }
Artinya:
“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.”
(HR. Ath-Thabrani)
Pada Hari Raya Idul Fitri waktu membacanya dimulai sejak terbenamnya matahari (setelah Maghrib) pada malam hari raya hingga selesainya pelaksanaan shalat sunnah Idul Fitri.
Adapun takbir pada Hari Raya Idul Adha terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
A. Takbir Mutlak (Mursal)
Waktunya dimulai dari terbenamnya matahari (setelah Maghrib) pada malam Hari Raya Iduladha sampai sebelum melaksanakan shalat sunnah Iduladha.
>Takbir Mutlak (Mursal) terdapat pada Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Iduladha.
B. Takbir Muqayyad
Waktunya dimulai setelah shalat Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Takbir ini dibaca setiap selesai melaksanakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah, baik shalat ada’ maupun shalat qadha. Waktunya berakhir sampai setelah melaksanakan shalat Ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah.
Ketentuan waktu di atas berlaku bagi seseorang yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Adapun bagi jamaah haji, maka waktunya dimulai setelah shalat Zuhur pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), dan berakhir sampai setelah melaksanakan shalat Subuh pada tanggal 13 Dzulhijjah.
>Takbir Muqayyad hanya terdapat pada Hari Raya Iduladha.
Takbir Mutlak (Mursal) yang terdapat pada Hari Raya Idul Fitri lebih utama daripada Takbir Mutlak (Mursal) yang terdapat pada Hari Raya Idul Adha. Adapun Takbir Muqayyad, maka lebih utama daripada Takbir Mutlak (Mursal) yang terdapat pada Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha.
Di antara contoh lafazh takbir yang dianjurkan untuk dibaca adalah sebagai berikut:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Hadratal Habib Musthofa رحمه الله menyima’ bacaan takbir para santri. Beberapa hal yang menjadi perhatian dan koreksi beliau di antaranya ialah:
1.Ketika bacaan takbir akan disambung, maka bacaan:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
dibaca dengan menyambungkan lafazh “Akbar” kepada lafazh “Allah” berikutnya. Huruf ra’ tidak disukunkan.
2. Pada lafazh:
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
beliau sangat berhati-hati dalam persoalan waqaf yang berpotensi murabah makna dari lafadz, perhatian beliau terletak pada kejelasan makhraj dan tidak memutus bacaan secara keliru.
3. Beliau juga tidak membiasakan adanya penambahan lafazh tertentu di luar bacaan yang telah masyhur.
Di antaranya pada lafazh:
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
karena menurut penjelasan beliau, pada hakikatnya seorang musyrik masih memiliki keterkaitan dengan pengakuan terhadap Allah, sehingga beliau lebih memilih lafazh:
وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
sebagaimana yang masyhur dibaca dalam susunan takbir.
Semoga Allah SWT merahmati Almaghfurlah Habib Musthofa Al Djufri, meninggikan derajat beliau, serta menjadikan warisan beliau tetap hidup di tengah para santri dan masyarakat. Semoga lantunan gema takbir senantiasa menjadi syiar yang menghidupkan hati, mengagungkan asma Allah, serta menampakkan kemuliaan Islam sebagaimana tuntunan Rasulullah ﷺ:
زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ
Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memuliakan syiar-syiar-Nya:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.