AL-QUR’AN adalah kitab suci yang mulia dan juga pedoman bagi umat muslim. Karena dengan al-qur’an hidup kita akan tenang dan jauh dari permasalahan. Hanya dengan membacanya, hati ini akan terasa tenang.
Maka dari itu mari kita selami al-qur’an dengan membaca dan menghafalnya, insyaallah akan menjadi syafaat kita kelak. Jadikan al-qur’an sebagai teman hidup, maka hidup akan selamat dunia dan akhirat. Dalam dawuh Abuya As-Sayyid Muhammad Taufiq bin Musthofa Al-Djufri, penghafal Al-Qur’an dituntut untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai napas keseharian, bukan hanya sebagai hafalan, tetapi juga sebagai pedoman hidup.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi fondasi utama bagi para huffazh dalam menghafal Al-Qur’an.
1.(LA YAUMA BILA QUR’AN) TIADA HARI TANPA MEMBACA AL-QUR’AN
Membaca Al-Qur’an bagi seorang penghafal bukan sekadar amalan tambahan, melainkan wirid harian yang tidak boleh ditinggalkan. Dalam keadaan lapang maupun sempit, senang ataupun susah, seorang santri penghafal Al-Qur’an harus senantiasa melazimkan diri untuk tetap berinteraksi dengan Kalamullah. Prinsip inilah yang dikenal dengan ungkapan lā yauma bilā Qur’ān, yakni tiada satu hari pun berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.
Hal ini selaras dengan firman Allah Swt.:
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.”
Ayat ini menjadi penegasan bahwa membaca Al-Qur’an tidak harus menunggu waktu longgar, kondisi sempurna, atau target yang berat. Sekalipun hanya beberapa ayat, selama dibaca dengan istiqamah dan penuh adab, bacaan tersebut akan menjadi penjaga hafalan, penentram hati, serta sumber keberkahan bagi kehidupan seorang santri penghafal Al-Qur’an.
2.MEMBACA HARUS DISERTAI DOA DAN KETERGANTUNGAN KEPADA ALLAH
Abuya As-Sayyid Muhammad Taufiq bin Musthofa Al-Djufri menegaskan bahwa bagi seorang santri penghafal Al-Qur’an, membaca saja belumlah mencukupi. Hafalan membutuhkan tawassul, munajat, dan doa yang terus dilanggengkan, tidak cukup hanya sekali dua kali. Doa menjadi bukti ketundukan seorang hamba sekaligus pengakuan bahwa kekuatan hafalan semata-mata bersumber dari pertolongan Allah Swt., bukan semata dari kecerdasan atau kemampuan pribadi.
Di antara amalan doa yang senantiasa dilazimkan oleh para penghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan beliau—sebagaimana yang dikarang langsung oleh Habib Muhammad Taufiq bin Musthofa Al-Djufri, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda—adalah sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُيَسِّرُ لَنَا تَحْفِيْظَ الْقُرْأٰنِ وَتَجْعَلُنَا بِهَا مِنْ قُرَّاءِ الْقُرْأٰنِ وَتَحْشُرُنَا بِهَا غَدًا مَعَ أَهْلِ الْقُرْأٰنِ تَحْتَ لِوَاءِ مَنْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْأٰنَ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
Doa ini menjadi wirid yang terus dibaca dan diharapkan keberkahannya, agar Allah Swt. dimudahkan dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, digolongkan sebagai ahli Al-Qur’an, serta kelak dihimpunkan bersama Ahlul Qur’an di bawah panji Nabi Muhammad ﷺ.
3.MENGHAFAL AL-QUR’AN SEBAGAI JIHAD AKBAR
Sejarah perjuangan Islam memberikan pelajaran berharga bahwa kemenangan tidak selalu diukur dari banyaknya jumlah, melainkan dari kuatnya iman dan pertolongan Allah Swt. Hal ini tampak jelas dalam Perang Badar, ketika kaum Muslimin yang hanya berjumlah 313 orang mampu meraih kemenangan atas musuh yang jumlahnya sekitar 1.000 orang. Kemenangan tersebut bukan semata karena kekuatan fisik, melainkan karena keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan hati para sahabat Rasulullah ﷺ.
Setelah perang tersebut usai dan para sahabat kembali ke Madinah, Rasulullah ﷺ bersabda:
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ
Para sahabat pun bertanya dengan penuh keheranan, “Jihad apakah lagi yang lebih besar, wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab:
جِهَادُ النَّفْسِ
Sabda Rasulullah ﷺ ini mengandung pelajaran yang sangat dalam, bahwa perjuangan yang paling berat bagi seorang mukmin adalah melawan hawa nafsunya sendiri. Inilah yang disebut sebagai jihad akbar. Menghafal Al-Qur’an termasuk bagian dari jihad besar tersebut. Ia bukan perjuangan dengan mengangkat senjata, melainkan perjuangan panjang melawan rasa malas, letih, futur, serta berbagai godaan dunia yang kerap melemahkan tekad seorang santri dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.
4.MAN JADDA WA JADA: KUNCI KESUKSESAN PENGHAFAL AL-QUR’AN
Kesuksesan dalam menghafal Al-Qur’an tidak datang tanpa usaha. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim ditegaskan prinsip “man jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Prinsip ini menjadi pegangan utama bagi para penghafal Al-Qur’an bahwa setiap jerih payah yang dilakukan dengan niat ikhlas akan berbuah manis atas izin Allah Swt. Kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
5.TINGKATAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR’AN
Dalam proses menghafal, terdapat beberapa tingkatan yang harus dilalui, yaitu qismul ūlā, wusthā, dan ‘ulyā. Setiap tingkatan memiliki target dan karakteristik yang berbeda. Pada tingkat qismul ‘ulyā, materi yang dipelajari tidak lagi berhenti pada hafalan semata, melainkan sudah memasuki tahap bitafsīril Qur’ān. Target utamanya adalah memahami makna Al-Qur’an serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya terjaga di dalam ingatan, tetapi juga hidup dalam perilaku dan akhlak penghafalnya.
Prinsip hidup penghafal Al-Qur’an sebagaimana yang disampaikan dalam dawuh Abuya As-Sayyid Muhammad Taufiq bin Musthofa Al-Djufri menegaskan bahwa menapaki jalan Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang penuh mujahadah dan riyadhah batin. Istiqamah dalam membaca Al-Qur’an, melazimkan doa dan munajat, menyadari bahwa menjaga hafalan adalah bagian dari jihad melawan hawa nafsu, serta bersungguh-sungguh dalam setiap ikhtiar, merupakan kunci utama keberkahan dan keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an.
Adapun tujuan akhir dari perjalanan ini bukan semata-mata kuatnya hafalan di dalam ingatan, melainkan lahirnya pribadi santri Qur’ani yang mampu memahami kandungan Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam sikap, akhlak, serta seluruh sendi kehidupan sehari-hari.
Penulis :Rofiatulmasruroh